Misionaris Awam Vinsensian Indonesia
RSS icon Email icon
  • Ira…Guru yang Sederhana

    Posted on January 4th, 2013 No comments

    Profesi guru adalah salah satu profesi yang mulia. Setidaknya itu yang saya pahami. Karena seorang guru berupaya untuk mencerdaskan anak didiknya. Dengan berbagi ilmu pengetahuan, pun berbagi kecerdasan berperilaku. Terlebih seorang guru yang sungguh menghidupi profesinya tersebut sebagai suatu panggilan nurani untuk melahirkan anak bangsa yang lebih manusiawi dan bermartabat.

    Sejumlah harapan -lebih tepatnya tuntutan- diarahkan pada dunia pendidikan. Dan ini berimbas pada sederet persyaratan untuk bisa menjadi guru. Terlebih untuk bisa menjadi guru dengan predikat guru yang profesional, guru yang berkompeten. Dan…dengan daftar kompetensi yang kemudian harus dimiliki seorang guru, adakah mereka bersedia memberikan diri untuk anak-anak di pelosok? Untuk anak-anak di kampung Dungan Dua, Kec. Menukung, Kalbar, dan bukan hanya untuk waktu singkat?

    Murid-murid SD Rakyat Mehola

    Murid-murid SD Rakyat Mehola

    Anak-anak di kampung ini kerap melontarkan pertanyaan, “Kenapa tidak ada yang mau menjadi guru di kampung kami? Kami ingin bah bisa pintar seperti anak-anak di kota.”

    Yah…kondisi kampung yang amat pelosok memang tidak mudah memikat orang untuk mau tinggal dan selanjutnya menjadi guru bagi anak-anak di sana. Kampung yang sangat jauh dari keramaian kota, yang belum dialiri listrik, yang masih amat sulit untuk bisa mendapatkan sinyal telekomunikasi, yang pola hidupnya masih amat sederhana bergantung pada alam. Maka yang kerap terjadi…bukanlah guru yang mendatangi anak-anak itu. Tetapi merekalah yang terpaksa harus ‘turun gunung’ mencapai sekolah yang lokasinya cukup jauh dari kampung, untuk bisa berjumpa sosok guru yang diharapkan mampu membuat mereka pintar. Itu adalah pilihan sulit bagi orang tua mereka. Usia SD bukanlah usia yang cukup untuk melepas seorang anak jauh dari orang tuanya.

    GURU…siapakah yang memberi batasan keilmuan dan kepantasan bagi seseorang untuk bisa menjadi seorang guru? Di sekolah ini, SD Rakyat Mehola, anak-anak ingin bisa membaca dan menulis. Ketika tidak mungkin lagi berharap pada seorang guru untuk mau mengajar di kampung mereka, maka sesungguhnya siapapun bisa menjadi guru. Bukan lagi semata-mata kompetensi keilmuan yang diperlukan. Tapi kemauan untuk membuat anak-anak itu pintar. Yang diperlukan adalah pribadi yang mau membimbing anak-anak itu dengan sabar.

    Ira, penduduk asli Kampung Sungai Dungan Dua. Ia lulus SD, dan tidak melanjutkan ke SMP karena sadar akan kemampuan akademisnya. Tapi dengan membangun kepercayaan diri padanya -perlahan- ia bersedia menjadi pengajar di SD Rakyat Mehola. Dan anak-anak pun amat mencintai Ira.

    Awal Desember 2012, Ira menikah dan terpaksa pindah ke kampung lain, mengikuti suami. Maka berkurang lagi tenaga pengajar di SD tersebut. Semoga selalu ada kaum muda yang punya kepercayaan diri, untuk mau menjadi teman belajar bagi anak-anak di kampung pelosok.

    Terima kasih Ira….karena sudah mau menjadi guru yang menyayangi anak-anak. Yang mengajari mereka membaca dan menulis. Semoga bahagia selalu.

    Ira, baju hijau, sedang mengajar.

    Ira, baju hijau, sedang mengajar.

     

     

  • Fajar Pembebasan di Sungai Dungan Dua

    Posted on November 28th, 2012 No comments

    Sungai Dungan Dua. Pernah mendengar nama ini? Mungkin, bagi sebagian besar pembaca, nama ini terdengar asing. Sungai Dungan Dua merupakan nama sebuah kampung di  pelosok Kalimantan Barat (Kalbar). Tepatnya, di wilayah Kecamatan Menukung, Kabupaten Melawi dengan Nanga Pinoh sebagai ibukotanya. Kabupaten Nanga Pinoh merupakan kabupaten baru, hasil pemekaran pada tahun 2005. Sebelumnya, kabupaten ini merupakan kecamatan yang menjadi bagian dari Kabupaten Sintang.

    Setiap orang yang ingin berkunjung ke kampung ini, membutuhkan perjalanan cukup panjang. Dari Pontianak, Ibukota Propinsi Kalimantan Barat, perjalanan mesti ditempuh dengan bis, menuju Nanga Pinoh selama 12 jam. Sesampai di Nanga Pinoh, perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan speedboat sekitar tiga jam untuk sampai di Kecamatan Menukung.

    Setiba di Menukung, perjalanan mesti dilanjutkan dengan berjalan kaki selama sekitar tiga jam (bagi pemula). Ya, sebagai pemula atau bagi mereka yang pertama kali menempuh perjalanan ini pertama kali, cukup menguras tenaga. Perjalanan ini melintasi bukit-bukit, ditambah sengatan panasnya udara Kalbar. Sepanjang perjalanan, menghampar dataran yang terbuka. Tak banyak pohon besar. Jadi, meski melintasi perbukitan, udara sejuk segar sungguh bukan di sana tempatnya.

    *****

    Bumi Kalimantan merupakan daerah yang diberkati dengan potensi sumber daya alam berlimpah. Hutan tropis yang menjadi salah satu paru-paru dunia. Hasil tambang yang tak bisa diremehkan. Mulai dari minyak bumi, batu bara, nikel, timah. Masyarakat Kalimantan juga kaya  akan keragaman budaya.

    Potensi sumber daya yang melimpah, toh bukan jaminan masyarakat bisa hidup makmur. Rendahnya tingkat pendidikan, merupakan persoalan yang tak bisa dianggap remeh-enteng. Rendahnya tingkat pendidikan, menjadikan sebuah bangsa yang diberkati sumber daya alam melimpah, belum tentu mampu memanfaatkannya.

    Keprihatinan inilah yang mendorong dirintisnya kegiatan belajar. Digagas oleh Rm. Paulus Suparmono, CM, Laurensius Limin (salah satu umat setempat), dan anggota MAVI, V. Yuliardi (Ardi), diadakanlah kegiatan belajar bersama bagi anak-anak. Pertama kali, kegiatan belajar bersama dimulai di rumah Limin. Dipilihnya rumah Limin, karena rumah itu dianggap cukup besar untuk bisa menampung kurang lebih 30 anak.

    Semua anak, siapapun dia, diijinkan dan diajak belajar bersama setiap harinya.  Kurang lebih 20-30 anak setiap  harinya yang datang untuk belajar di rumah itu. Seperti pada banyak hal, pada mulanya, antusiasme melahirkan semangat. Banyak anak mulai terlibat belajar bersama. Jumlah tenaga pengajar tidaklah sebanding dengan jumlah anak. Menyingsinglah fajar pendidikan yang membebaskan dari ancaman kobodohan.

    Kepedulian pada kondisi pendidikan, khususnya bagi anak-anak, melahirkan komitmen dalam diri MAVI untuk senantiasa mengupayakan keberlangsungan sekolah tersebut.

    #Margaretha Lilianti, “10 Tahun MAVI dalam Catatan” hlm. 135#

http://twitter-widget.com/blog/packages/