Misionaris Awam Vinsensian Indonesia
RSS icon Email icon
  • Fajar Pembebasan di Sungai Dungan Dua

    Posted on November 28th, 2012 No comments

    Sungai Dungan Dua. Pernah mendengar nama ini? Mungkin, bagi sebagian besar pembaca, nama ini terdengar asing. Sungai Dungan Dua merupakan nama sebuah kampung di  pelosok Kalimantan Barat (Kalbar). Tepatnya, di wilayah Kecamatan Menukung, Kabupaten Melawi dengan Nanga Pinoh sebagai ibukotanya. Kabupaten Nanga Pinoh merupakan kabupaten baru, hasil pemekaran pada tahun 2005. Sebelumnya, kabupaten ini merupakan kecamatan yang menjadi bagian dari Kabupaten Sintang.

    Setiap orang yang ingin berkunjung ke kampung ini, membutuhkan perjalanan cukup panjang. Dari Pontianak, Ibukota Propinsi Kalimantan Barat, perjalanan mesti ditempuh dengan bis, menuju Nanga Pinoh selama 12 jam. Sesampai di Nanga Pinoh, perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan speedboat sekitar tiga jam untuk sampai di Kecamatan Menukung.

    Setiba di Menukung, perjalanan mesti dilanjutkan dengan berjalan kaki selama sekitar tiga jam (bagi pemula). Ya, sebagai pemula atau bagi mereka yang pertama kali menempuh perjalanan ini pertama kali, cukup menguras tenaga. Perjalanan ini melintasi bukit-bukit, ditambah sengatan panasnya udara Kalbar. Sepanjang perjalanan, menghampar dataran yang terbuka. Tak banyak pohon besar. Jadi, meski melintasi perbukitan, udara sejuk segar sungguh bukan di sana tempatnya.

    *****

    Bumi Kalimantan merupakan daerah yang diberkati dengan potensi sumber daya alam berlimpah. Hutan tropis yang menjadi salah satu paru-paru dunia. Hasil tambang yang tak bisa diremehkan. Mulai dari minyak bumi, batu bara, nikel, timah. Masyarakat Kalimantan juga kaya  akan keragaman budaya.

    Potensi sumber daya yang melimpah, toh bukan jaminan masyarakat bisa hidup makmur. Rendahnya tingkat pendidikan, merupakan persoalan yang tak bisa dianggap remeh-enteng. Rendahnya tingkat pendidikan, menjadikan sebuah bangsa yang diberkati sumber daya alam melimpah, belum tentu mampu memanfaatkannya.

    Keprihatinan inilah yang mendorong dirintisnya kegiatan belajar. Digagas oleh Rm. Paulus Suparmono, CM, Laurensius Limin (salah satu umat setempat), dan anggota MAVI, V. Yuliardi (Ardi), diadakanlah kegiatan belajar bersama bagi anak-anak. Pertama kali, kegiatan belajar bersama dimulai di rumah Limin. Dipilihnya rumah Limin, karena rumah itu dianggap cukup besar untuk bisa menampung kurang lebih 30 anak.

    Semua anak, siapapun dia, diijinkan dan diajak belajar bersama setiap harinya.  Kurang lebih 20-30 anak setiap  harinya yang datang untuk belajar di rumah itu. Seperti pada banyak hal, pada mulanya, antusiasme melahirkan semangat. Banyak anak mulai terlibat belajar bersama. Jumlah tenaga pengajar tidaklah sebanding dengan jumlah anak. Menyingsinglah fajar pendidikan yang membebaskan dari ancaman kobodohan.

    Kepedulian pada kondisi pendidikan, khususnya bagi anak-anak, melahirkan komitmen dalam diri MAVI untuk senantiasa mengupayakan keberlangsungan sekolah tersebut.

    #Margaretha Lilianti, “10 Tahun MAVI dalam Catatan” hlm. 135#

http://twitter-widget.com/blog/packages/