Misionaris Awam Vinsensian Indonesia
RSS icon Email icon
  • Mencari Sinyal Telepon di Hulu

    Posted on May 16th, 2013 No comments

    Urusan yang satu ini memang penting.

    Tapi tidak bisa ditawar-tawar lagi.

    Harus menerima apa adanya kondisi di darat dan di hulu.

    Apa itu…?!?!?

    Yuppp, sinyal henpon..

    Penting lhooo, untuk menghubungi orang tua dan teman-teman yang pengen tau banget akan kondisi kita, hehehe, ge er dikit gak papa..

    Oktober 2005, awal kedatanganku di Menukung, tidak ada sinyal Hp sama sekali. Jadi urusan telpon-telponan lupakanlah dulu untuk sementara. Teman-teman MAVI yang datang sebelum aku, biasanya menitipkan Hp di paroki atau di rumah CM di Km 4, supaya ‘dipelihara’ dengan baik oleh romo. Maksudnya dipelihara, tentu dengan cara mengisikan pulsa supaya nomornya tidak hangus, hehehe..

    Tetapi selang beberapa bulan aku di Menukung, kalau tidak salah pertengahan 2006, mulai ada sinyal di Menukung. Thanks God, aku pun ikut melonjak riang, karena hubungan dengan keluarga jadi lebih mudah. Sebelumnya ada juga telepon satelit yang bisa dimanfaatkan. Tapi biayanya audzubillah mahal amir.. Sekitar 1 menit berbicara, biaya yang tertera sudah sekitar 20 ribu lebih. Jadi kecepatan kita berbicara, harus disesuaikan juga dengan kecepatan argo telepon itu berjalan.

    Tahun kedua aku datang ke Menukung, aku mendapat tugas mengajar di Sungai Dungan 2, kampung nun jauh di darat. Urusan telpon yang semula mudah, jadi sulit lagi deh.. Sebenarnya kita bisa memperoleh sinyal jika kita mau sengsara sedikit, berjalan kaki ke bukit yang yaahh, lumayan terjal. Aku sih tidak mau bersusah payah seperti itu. Aku menikmati saja kampung yang sunyi tanpa tulat tulit bunyi Hp.

    Tapi tekadku itu runtuh ketika suatu malam aku bermimpi papa di Sidoarjo sedang sakit. Esok paginya, setelah mengajar, tak sabar aku mengajak Unau dan Semini menunjukkan bukit yang terjangkau sinyal. Asli, ngos-ngosan… Tinggi buangeet…

    Sesampainya di puncak, aku ‘mengusir’ anak-anak dengan halus. Kukatakan nanti kakak bisa pulang sendiri. Alasan sebenarnya sih, malu kalau sampai anak-anak melihat aku menangis. Karena sepanjang jalan,  air mataku benar-benar sudah mau tumpah mengingat mimpi semalam. Tidak sabar kutelpon mamaku, karena waktu itu papa belum punya Hp. Daaannn, mamaku tertawa terbahak-bahak ketika aku menanyakan kabar papa dan menceritakan mimpiku semalam (aku memang bercerita dengan suara gemetar menahan tangis). Nah, mamaku tertawa karena selama ini aku dikenal sebagai anak yang tegar, berani pergi ke pedalaman seorang diri, dan tidak gampang menangis. Eh, karena mimpi, aku kok jadi nangis begitu. Eeh, ya iyalah Ma, mimpi orang tua sakit, pliss deh, sapa yang nggak kuatir. Apalagi jauh gini.. Tapi it’s ok, papa sehat kok.. Syukurlah… Dan ternyata, kedua anak yang kusuruh pulang tadi, menunggu di tempat yang agak tersembunyi, menunggu aku selesai telepon. Katanya khawatir kakak tersesat. Hehehehe, anak-anak yang baik..

    Pengalaman kedua, harus menghubungi Lily di paroki. Aku ajak lagi si Unau dan Deti untuk menunjukkan jalan. Kutanya adakah tempat yang lain, yang tidak seterjal bukit yang dulu. Ada. Syukurlah..

    Huuff, memang tidak seterjal bukit kemarin, tapi ternyata kualitas sinyalnya jadi tidak sebagus di bukit tinggi itu. Garis sinyal hanya bergerak antara satu setrip dan nol setrip. Huhuhuhu, dah terlanjur kesini..

    Unau yang melihat kegalauanku langsung berkata, “Naik pohon bah Kak, lebih bagus sinyalnya..” Whatzzz, naik pohon..??? Dengan badanku yang gedhe seperti ini..???

    Untunglah Unau dengan gesit meraih Hpku. “Sini Kak, biar aku yang naik..” Jadi, setelah aku menulis sms, Unau dengan gesit memanjat pohon dan memencet tombol kirim. Dia akan menungggu beberapa saat di atas pohon, hingga ada balasan sms dari Lily, kemudian turun lagi. Begitu seterusnya hingga urusan selesai.

    Aku bersorak kegirangan ketika ada bunyi sms masuk, artinya naik dan turun pohon tadi tidak sia-sia. Unau pun ikut bersorak, mungkin karena dia belum pernah memegang Hp dan melakukan proses mengirim sms. Tentu dia senang karena bisa memencet tombol ‘kirim’ di Hpku.

    Memang dengan semakin pesatnya perkembangan transportasi dan komunikasi di hulu membawa hal yang baik di masyarakat pedalaman. Tapi hal yang tidak baik pun turut menyertainya. Membina anak di asrama menjadi lebih sulit dengan adanya Hp dengan berbagai macam hal di dalamnya.

    Semoga kemajuan teknologi tidak mengubah nilai-nilai kebaikan yang ada disana..

     

    -wemie-

    Wemie dan anak-anak Sungai Dungan 2 sedang 'mendaki' bukit

    Wemie dan anak-anak Sungai Dungan 2 sedang ‘mendaki’ bukit

  • TAK APA KAK, BUAT KAKAK….

    Posted on February 6th, 2013 No comments
    Wemie di tengah murid-murid Bunyau

    Wemie di tengah murid-murid Bunyau

    Salah seorang murid kelas III SD Swadaya Bunyau yang bernama Riko rajin sekali mencari ikan, keong mas, memberi umpan babi dan mencari sayur di ladang. Sore itu, aku dan Kak Luluk yang sudah setahun lebih mengajar di Bunyau, baru saja sampai di rumah kecil kami setelah seminggu lebih ke Menukung (kota kecamatan dan pusat paroki-red).

    Sebagaimana layaknya orang yang baru datang, kami berdua merasa sangat letih karena pengalaman yang melelahkan, ditambah keadaan rumah yang kotor dan tidak ada air sama sekali, membuat kami terduduk lemas di lantai rumah. “Wah, harus bolak-balik ambil air ke sungai nih, tandon kita kosong sama sekali…”. Padahal jarak antara sungai dan rumah lumayan jauh, sekitar 300 meter. Membayangkannya saja kami sudah capai.

    Tiba-tiba terdengar suara Riko memanggil-manggil dari luar, “Kakak….kakak…. Ada ikan buat Kakak…”. “Aduh mak…ikan!” Berarti harus ada banyak air untuk membersihkannya kan? Padahal segayung air begitu berharga di rumah ini.

    Walau pun pamali kalau harus menolak pemberian, aku keluar rumah dan berkata kepada Riko, “Oh Riko, maaf ya. Bukannya Kakak tidak mau ikan, tapi Kakak baru datang. Kakak tidak punya air untuk membersihkan ikan itu. Minyak tanah pun kami belum punya. Jadi, kau bawa pulang saja bah, makan sama Mamak, Apak (ibu, bapak-red), dan adik kau…!” Dia mengangguk dan pergi. Ah, syukurlah dia mau mengerti.

    Tak lama kemudian, kami sudah bersiap-siap memakai sarung dan membawa ember untuk mandi dan mengambil air ke sungai. Eh, suara Riko terdengar lagi, ”Kakak…Ini ada ikan buat Kakak…” . Aku dan Kak Luluk berpandang-pandangan dan tertawa letih. ”Riko, Kakak belum punya air, bawa pulang aja ya…”. “Sudah kubersihkan Kak”. Dia menunjukkan dua ekor ikan kecil yang sudah bersih. Aku tertawa, ”Wah, terima kasih. Kalau gitu, tolong belikan minyak tanah ya, biar Kakak bisa goreng ikan itu nanti. Kakak mau ke sungai dulu”. Setelah Kak Luluk memberikan uang dan jerigen minyak, dia melesat bagai anak panah menuju warung, yang hanya satu-satunya di kampung itu.

    Malam harinya, setelah kami selesai menggoreng ikan, Riko datang lagi untuk belajar di rumah kami. Sekalian saja kami ajak dia makan bersama. Iseng-iseng kutanya dia, ”Memang dapat berapa ekor ikan kau tadi?” “Empat ekor”. Aku terkejut. Dua ekor diberikannya kepada kami padahal jumlah anggota keluarganya ada enam orang. ”Kenapa yang dua ekor kau berikan pada Kakak? Bukannya yang dua lagi tidak cukup untuk keluarga kau?” Sambil tersenyum dia menjawab singkat, ”Tak apa Kak, buat Kakak..”.

    Aku terdiam. Hampir tak dapat kutelan nasi hangat dan ikan yang sudah ada di mulutku karena aku menahan rasa haru yang tiba-tiba muncul. Jawaban yang sungguh-sungguh sederhana keluar dari bibir kecilnya dan menunjukkan bahwa, ”Aku memberi karena aku ingin memberi”. Tidak ada maksud ingin dipuji, ingin dibalas atau alasan yang lainnya. Sebuah ketulusan yang sudah semakin jarang aku temui. Sebuah pemberian dari kekurangan yang ia miliki.

    “Tuhan terima kasih. Kau kirimkan seorang guru kecil hari ini. Seorang Guru Kehidupan…”

    *Sharing Irene Wemie, anggota MAVI yang berkarya di asrama putri Paroki St. Louisa, Menukung, Kalbar, saat mengunjungi Kampung Bunyau, tahun 2006.

    tempat tinggal Wemie di Bunyau

    tempat tinggal Wemie di Bunyau

  • Ira…Guru yang Sederhana

    Posted on January 4th, 2013 No comments

    Profesi guru adalah salah satu profesi yang mulia. Setidaknya itu yang saya pahami. Karena seorang guru berupaya untuk mencerdaskan anak didiknya. Dengan berbagi ilmu pengetahuan, pun berbagi kecerdasan berperilaku. Terlebih seorang guru yang sungguh menghidupi profesinya tersebut sebagai suatu panggilan nurani untuk melahirkan anak bangsa yang lebih manusiawi dan bermartabat.

    Sejumlah harapan -lebih tepatnya tuntutan- diarahkan pada dunia pendidikan. Dan ini berimbas pada sederet persyaratan untuk bisa menjadi guru. Terlebih untuk bisa menjadi guru dengan predikat guru yang profesional, guru yang berkompeten. Dan…dengan daftar kompetensi yang kemudian harus dimiliki seorang guru, adakah mereka bersedia memberikan diri untuk anak-anak di pelosok? Untuk anak-anak di kampung Dungan Dua, Kec. Menukung, Kalbar, dan bukan hanya untuk waktu singkat?

    Murid-murid SD Rakyat Mehola

    Murid-murid SD Rakyat Mehola

    Anak-anak di kampung ini kerap melontarkan pertanyaan, “Kenapa tidak ada yang mau menjadi guru di kampung kami? Kami ingin bah bisa pintar seperti anak-anak di kota.”

    Yah…kondisi kampung yang amat pelosok memang tidak mudah memikat orang untuk mau tinggal dan selanjutnya menjadi guru bagi anak-anak di sana. Kampung yang sangat jauh dari keramaian kota, yang belum dialiri listrik, yang masih amat sulit untuk bisa mendapatkan sinyal telekomunikasi, yang pola hidupnya masih amat sederhana bergantung pada alam. Maka yang kerap terjadi…bukanlah guru yang mendatangi anak-anak itu. Tetapi merekalah yang terpaksa harus ‘turun gunung’ mencapai sekolah yang lokasinya cukup jauh dari kampung, untuk bisa berjumpa sosok guru yang diharapkan mampu membuat mereka pintar. Itu adalah pilihan sulit bagi orang tua mereka. Usia SD bukanlah usia yang cukup untuk melepas seorang anak jauh dari orang tuanya.

    GURU…siapakah yang memberi batasan keilmuan dan kepantasan bagi seseorang untuk bisa menjadi seorang guru? Di sekolah ini, SD Rakyat Mehola, anak-anak ingin bisa membaca dan menulis. Ketika tidak mungkin lagi berharap pada seorang guru untuk mau mengajar di kampung mereka, maka sesungguhnya siapapun bisa menjadi guru. Bukan lagi semata-mata kompetensi keilmuan yang diperlukan. Tapi kemauan untuk membuat anak-anak itu pintar. Yang diperlukan adalah pribadi yang mau membimbing anak-anak itu dengan sabar.

    Ira, penduduk asli Kampung Sungai Dungan Dua. Ia lulus SD, dan tidak melanjutkan ke SMP karena sadar akan kemampuan akademisnya. Tapi dengan membangun kepercayaan diri padanya -perlahan- ia bersedia menjadi pengajar di SD Rakyat Mehola. Dan anak-anak pun amat mencintai Ira.

    Awal Desember 2012, Ira menikah dan terpaksa pindah ke kampung lain, mengikuti suami. Maka berkurang lagi tenaga pengajar di SD tersebut. Semoga selalu ada kaum muda yang punya kepercayaan diri, untuk mau menjadi teman belajar bagi anak-anak di kampung pelosok.

    Terima kasih Ira….karena sudah mau menjadi guru yang menyayangi anak-anak. Yang mengajari mereka membaca dan menulis. Semoga bahagia selalu.

    Ira, baju hijau, sedang mengajar.

    Ira, baju hijau, sedang mengajar.

     

     

http://twitter-widget.com/blog/packages/