Misionaris Awam Vinsensian Indonesia
RSS icon Email icon
  • Mencari Sinyal Telepon di Hulu

    Posted on May 16th, 2013 No comments

    Urusan yang satu ini memang penting.

    Tapi tidak bisa ditawar-tawar lagi.

    Harus menerima apa adanya kondisi di darat dan di hulu.

    Apa itu…?!?!?

    Yuppp, sinyal henpon..

    Penting lhooo, untuk menghubungi orang tua dan teman-teman yang pengen tau banget akan kondisi kita, hehehe, ge er dikit gak papa..

    Oktober 2005, awal kedatanganku di Menukung, tidak ada sinyal Hp sama sekali. Jadi urusan telpon-telponan lupakanlah dulu untuk sementara. Teman-teman MAVI yang datang sebelum aku, biasanya menitipkan Hp di paroki atau di rumah CM di Km 4, supaya ‘dipelihara’ dengan baik oleh romo. Maksudnya dipelihara, tentu dengan cara mengisikan pulsa supaya nomornya tidak hangus, hehehe..

    Tetapi selang beberapa bulan aku di Menukung, kalau tidak salah pertengahan 2006, mulai ada sinyal di Menukung. Thanks God, aku pun ikut melonjak riang, karena hubungan dengan keluarga jadi lebih mudah. Sebelumnya ada juga telepon satelit yang bisa dimanfaatkan. Tapi biayanya audzubillah mahal amir.. Sekitar 1 menit berbicara, biaya yang tertera sudah sekitar 20 ribu lebih. Jadi kecepatan kita berbicara, harus disesuaikan juga dengan kecepatan argo telepon itu berjalan.

    Tahun kedua aku datang ke Menukung, aku mendapat tugas mengajar di Sungai Dungan 2, kampung nun jauh di darat. Urusan telpon yang semula mudah, jadi sulit lagi deh.. Sebenarnya kita bisa memperoleh sinyal jika kita mau sengsara sedikit, berjalan kaki ke bukit yang yaahh, lumayan terjal. Aku sih tidak mau bersusah payah seperti itu. Aku menikmati saja kampung yang sunyi tanpa tulat tulit bunyi Hp.

    Tapi tekadku itu runtuh ketika suatu malam aku bermimpi papa di Sidoarjo sedang sakit. Esok paginya, setelah mengajar, tak sabar aku mengajak Unau dan Semini menunjukkan bukit yang terjangkau sinyal. Asli, ngos-ngosan… Tinggi buangeet…

    Sesampainya di puncak, aku ‘mengusir’ anak-anak dengan halus. Kukatakan nanti kakak bisa pulang sendiri. Alasan sebenarnya sih, malu kalau sampai anak-anak melihat aku menangis. Karena sepanjang jalan,  air mataku benar-benar sudah mau tumpah mengingat mimpi semalam. Tidak sabar kutelpon mamaku, karena waktu itu papa belum punya Hp. Daaannn, mamaku tertawa terbahak-bahak ketika aku menanyakan kabar papa dan menceritakan mimpiku semalam (aku memang bercerita dengan suara gemetar menahan tangis). Nah, mamaku tertawa karena selama ini aku dikenal sebagai anak yang tegar, berani pergi ke pedalaman seorang diri, dan tidak gampang menangis. Eh, karena mimpi, aku kok jadi nangis begitu. Eeh, ya iyalah Ma, mimpi orang tua sakit, pliss deh, sapa yang nggak kuatir. Apalagi jauh gini.. Tapi it’s ok, papa sehat kok.. Syukurlah… Dan ternyata, kedua anak yang kusuruh pulang tadi, menunggu di tempat yang agak tersembunyi, menunggu aku selesai telepon. Katanya khawatir kakak tersesat. Hehehehe, anak-anak yang baik..

    Pengalaman kedua, harus menghubungi Lily di paroki. Aku ajak lagi si Unau dan Deti untuk menunjukkan jalan. Kutanya adakah tempat yang lain, yang tidak seterjal bukit yang dulu. Ada. Syukurlah..

    Huuff, memang tidak seterjal bukit kemarin, tapi ternyata kualitas sinyalnya jadi tidak sebagus di bukit tinggi itu. Garis sinyal hanya bergerak antara satu setrip dan nol setrip. Huhuhuhu, dah terlanjur kesini..

    Unau yang melihat kegalauanku langsung berkata, “Naik pohon bah Kak, lebih bagus sinyalnya..” Whatzzz, naik pohon..??? Dengan badanku yang gedhe seperti ini..???

    Untunglah Unau dengan gesit meraih Hpku. “Sini Kak, biar aku yang naik..” Jadi, setelah aku menulis sms, Unau dengan gesit memanjat pohon dan memencet tombol kirim. Dia akan menungggu beberapa saat di atas pohon, hingga ada balasan sms dari Lily, kemudian turun lagi. Begitu seterusnya hingga urusan selesai.

    Aku bersorak kegirangan ketika ada bunyi sms masuk, artinya naik dan turun pohon tadi tidak sia-sia. Unau pun ikut bersorak, mungkin karena dia belum pernah memegang Hp dan melakukan proses mengirim sms. Tentu dia senang karena bisa memencet tombol ‘kirim’ di Hpku.

    Memang dengan semakin pesatnya perkembangan transportasi dan komunikasi di hulu membawa hal yang baik di masyarakat pedalaman. Tapi hal yang tidak baik pun turut menyertainya. Membina anak di asrama menjadi lebih sulit dengan adanya Hp dengan berbagai macam hal di dalamnya.

    Semoga kemajuan teknologi tidak mengubah nilai-nilai kebaikan yang ada disana..

     

    -wemie-

    Wemie dan anak-anak Sungai Dungan 2 sedang 'mendaki' bukit

    Wemie dan anak-anak Sungai Dungan 2 sedang ‘mendaki’ bukit

  • Memurnikan Motivasi Lewat Formatio

    Posted on May 16th, 2013 No comments

    Formatio mengandung makna pembentukan, pengolahan, pengenalan. Formatio calon anggota sebagai jalan masuk seorang calon anggota ke dalam tubuh MAVI  ini adalah sarana saling mengenali antara calon anggota dan MAVI. Masing-masing pihak membuka sebuah ruang dialog sehingga melaluinya dapat ditemukan pengenalan dan pemahaman yang lebih baik di antara keduanya. Sebagai orang yang akan terlibat dalam karya MAVI menjalani proses formatio adalah masa pendalaman atas karya-karya yang telah, sedang, dan akan dilaksanakan oleh MAVI.

    Proses ini juga merupakan kesempatan untuk menanamkan dan merefleksikann semangat-semangat vinsensian, merefleksikan panggilan menjadi seorang misionaris awam, dan terutama refleksi atas hidup dan gerak-gerak batin selama menjalani hari-hari formatio. Panggilan menjadi misionaris awam bukanlah “panggilan  biasa”. Menjadi misionaris awam tidak “keren” seperti menjadi imam, bruder, suster. (Kata awam itu sendiri kadang terasa kurang menyenangkan jika dibandingkan dengan kata religius. Dua kata yang seharusnya hanya merujuk pada status seseorang yang awam atau yang religius tetapi sering digunakan untuk menakar kualitas dua pihak yang berbeda status itu, seolah-olah yang awam itu berada pada kasta yang lebih rendah). Anggota MAVI hampir tidak pernah terdengar, tidak terlihat mentereng dalam gemerlapnya dinamika Gereja Katolik Indonesia dan seringkali bekerja dalam kesendirian. Dalam konteks “budaya pamer” yang melanda negeri ini pilihan menjadi anggota MAVI boleh jadi sangat tidak menarik, dan dalam masa formatio konsekuensi-konsekuensi semacam itu yang merupakan bagian dari pilihan menjadi seorang misionaris awam diresapi dan direfleksikan sehingga panggilan itu kian menampilkan wajahnya yang asli; apakah itu sekedar keinginan untuk petualangan dan aktualisasi diri atau sungguh-sungguh menjawab perutusan sebagai warga Gereja Katolik yang punya hati untuk berbagi berkat kehidupan dengan sesamanya yang paling kecil, lemah, dan tersingkir. Masa formatio menjadi saat untuk melihat kembali dan memurnikan motivasi yang membawa kaki melangkah ke Sekretariat MAVI.

    Meskipun hanya sebulan, kesabaran dalam mengikuti formatio sangat diperlukan karena kesabaran, ketenangan, adalah hal pokok yang tidak boleh diabaikan ketika seseorang sedang merefleksikan sebuah panggilan yang tidak biasa, ketika seseorang sedang melihat kembali motivasinya. Kesabaran dan ketenangan dalam menjalani formatio memberikan kemampuan dan ruang untuk berefleksi dan memahami gerak-gerak batin selama hari-hari yang kadang terasa menjemukan. Kemampuan berefleksi itu sangat dituntut dari seorang calon dan juga anggota MAVI. Seringkali motivasi yang kuat (tetapi belum tentu benar) dan keinginan untuk segera berangkat (dengan motivasi yang belum tentu benar pula) membuat tidak sabar dan lupa bahwa “pekerjaannya” bukanlah sekedar pekerjaan tetapi mengemban sebuah misi yang, minimal bagi saya, tidak bisa disamakan dengan pekerjaan begitu saja meski di dalam misi itu pun ujung tombaknya adalah bekerja.

    Selama masa formatio saya dititipkan dalam komunitas Sanggar Sahabat Anak, dan kesempatan hidup bersama komunitas ini melahirkan banyak momen yang sangat menarik untuk dicecap-cecap dalam semangat refleksi.  Hidup bersama mereka saya rasakan sebagai jalan masuk yang sangat baik ke dalam spiritualitas vinsensian yang menjunjung tinggi dan menghidupi semangat kesederhanaan, kelemahlembutan, kerendahan hati, matiraga, dan semangat menyelamatkan jiwa-jiwa.

    Di Sanggar Sahabat Anak saya “dipaksa” lebih cepat mengadopsi kelima keutamaan itu. Saya mengalami dibenturkan langsung dengan keharusan mengamalkan kelima sila “pancasila” itu. Kehidupan sehari-hari di sanggar bukanlah keseharian yang biasa saya hadapi. Orang-orang yang terlibat di dalamnya tidak berlatarbelakang budaya yang sama dengan saya (saya dari Jogja yang Jawa sedangkan teman-teman di sanggar  dari Flores, bisa dibayangkanlah perbedaannya….). Anak-anak yang belajar dan bermain di sanggar juga bukan anak-anak dengan karakter yang biasa saya temui di kampung saya.  Mereka adalah anak-anak kaum pinggiran kota Malang dengan karakter yang cenderung tidak mudah diatur. Saya dihadapkan kepada tata cara hidup yang baru, hidup yang cenderung ramai dan berisik, dihadapkan pada pribadi-pribadi dengan  karakter keras. Dalam situasi seperti itu kerelaan untuk rendah hati, berpikiran dan berperilaku sederhana dan tidak berbeda dengan mereka, bersikap lemah lembut dalam menerima perubahan hidup dengan tidak mengedepankan idealitas tetapi lebih bersikap memahami realitas, serta kerelaan menerima apa yang ada tanpa syarat dan mau bersahabat dengan siapa saja di sanggar, menjadi wajib hukumnya jika ingin “bertahan hidup” dengan tetap dapat merasa gembira dan menikmati hari-hari bersama mereka.

    Melalui pengalaman beberapa hari bersama sahabat-sahabat di sanggar, saya merasakan bahwa mendalami spiritualitas vinsensian adalah bergulat dengan diri sendiri ketika seseorang sedang  berada dalam kondisi di mana idealisme, eksistensi diri dan keinginan untuk mengaktualisasikan diri berhadapan dengan saat-saat yang menuntut sikap rendah hati, sederhana, lemah lembut, dan matiraga. Tantangannya adalah apakah ketika dihadapkan dengan kondisi semacam itu bisa tetap menghidupi semangat vinsensian sembari mencoba menawarkan perubahan yang lebih baik kepada masyarakat dan apakah bisa mencoba menawarkan perubahan dengan tetap menghidupi semangat vinsensian?

    Mengikuti formatio saya rasakan juga sebagai  sarana memahami kehendak Allah yang disampaikan lewat pertemuan-pertemuan dengan Mbak Kristien, Mbak Lily, Rama Wawan, Mas Bro Miki, Mas Bro Oby, dan sahabat-sahabat yang lain di sanggar. Melalui bacaan-bacaan dari sekretariat, “konferensi-konferensi” dari Mbak Kristin dan Mbak Lily kebrisikan dan kegilaan hidup di sanggar, Allah berbicara kepada saya tentang cinta kasih, persahabatan, kepedulian, penghargaan kepada sesama, dan Ajaran Sosial Gereja……

    April 2013, Teguh Rahardjo

    4935_1095569826811_2459213_n

  • TAK APA KAK, BUAT KAKAK….

    Posted on February 6th, 2013 No comments
    Wemie di tengah murid-murid Bunyau

    Wemie di tengah murid-murid Bunyau

    Salah seorang murid kelas III SD Swadaya Bunyau yang bernama Riko rajin sekali mencari ikan, keong mas, memberi umpan babi dan mencari sayur di ladang. Sore itu, aku dan Kak Luluk yang sudah setahun lebih mengajar di Bunyau, baru saja sampai di rumah kecil kami setelah seminggu lebih ke Menukung (kota kecamatan dan pusat paroki-red).

    Sebagaimana layaknya orang yang baru datang, kami berdua merasa sangat letih karena pengalaman yang melelahkan, ditambah keadaan rumah yang kotor dan tidak ada air sama sekali, membuat kami terduduk lemas di lantai rumah. “Wah, harus bolak-balik ambil air ke sungai nih, tandon kita kosong sama sekali…”. Padahal jarak antara sungai dan rumah lumayan jauh, sekitar 300 meter. Membayangkannya saja kami sudah capai.

    Tiba-tiba terdengar suara Riko memanggil-manggil dari luar, “Kakak….kakak…. Ada ikan buat Kakak…”. “Aduh mak…ikan!” Berarti harus ada banyak air untuk membersihkannya kan? Padahal segayung air begitu berharga di rumah ini.

    Walau pun pamali kalau harus menolak pemberian, aku keluar rumah dan berkata kepada Riko, “Oh Riko, maaf ya. Bukannya Kakak tidak mau ikan, tapi Kakak baru datang. Kakak tidak punya air untuk membersihkan ikan itu. Minyak tanah pun kami belum punya. Jadi, kau bawa pulang saja bah, makan sama Mamak, Apak (ibu, bapak-red), dan adik kau…!” Dia mengangguk dan pergi. Ah, syukurlah dia mau mengerti.

    Tak lama kemudian, kami sudah bersiap-siap memakai sarung dan membawa ember untuk mandi dan mengambil air ke sungai. Eh, suara Riko terdengar lagi, ”Kakak…Ini ada ikan buat Kakak…” . Aku dan Kak Luluk berpandang-pandangan dan tertawa letih. ”Riko, Kakak belum punya air, bawa pulang aja ya…”. “Sudah kubersihkan Kak”. Dia menunjukkan dua ekor ikan kecil yang sudah bersih. Aku tertawa, ”Wah, terima kasih. Kalau gitu, tolong belikan minyak tanah ya, biar Kakak bisa goreng ikan itu nanti. Kakak mau ke sungai dulu”. Setelah Kak Luluk memberikan uang dan jerigen minyak, dia melesat bagai anak panah menuju warung, yang hanya satu-satunya di kampung itu.

    Malam harinya, setelah kami selesai menggoreng ikan, Riko datang lagi untuk belajar di rumah kami. Sekalian saja kami ajak dia makan bersama. Iseng-iseng kutanya dia, ”Memang dapat berapa ekor ikan kau tadi?” “Empat ekor”. Aku terkejut. Dua ekor diberikannya kepada kami padahal jumlah anggota keluarganya ada enam orang. ”Kenapa yang dua ekor kau berikan pada Kakak? Bukannya yang dua lagi tidak cukup untuk keluarga kau?” Sambil tersenyum dia menjawab singkat, ”Tak apa Kak, buat Kakak..”.

    Aku terdiam. Hampir tak dapat kutelan nasi hangat dan ikan yang sudah ada di mulutku karena aku menahan rasa haru yang tiba-tiba muncul. Jawaban yang sungguh-sungguh sederhana keluar dari bibir kecilnya dan menunjukkan bahwa, ”Aku memberi karena aku ingin memberi”. Tidak ada maksud ingin dipuji, ingin dibalas atau alasan yang lainnya. Sebuah ketulusan yang sudah semakin jarang aku temui. Sebuah pemberian dari kekurangan yang ia miliki.

    “Tuhan terima kasih. Kau kirimkan seorang guru kecil hari ini. Seorang Guru Kehidupan…”

    *Sharing Irene Wemie, anggota MAVI yang berkarya di asrama putri Paroki St. Louisa, Menukung, Kalbar, saat mengunjungi Kampung Bunyau, tahun 2006.

    tempat tinggal Wemie di Bunyau

    tempat tinggal Wemie di Bunyau

  • Ira…Guru yang Sederhana

    Posted on January 4th, 2013 No comments

    Profesi guru adalah salah satu profesi yang mulia. Setidaknya itu yang saya pahami. Karena seorang guru berupaya untuk mencerdaskan anak didiknya. Dengan berbagi ilmu pengetahuan, pun berbagi kecerdasan berperilaku. Terlebih seorang guru yang sungguh menghidupi profesinya tersebut sebagai suatu panggilan nurani untuk melahirkan anak bangsa yang lebih manusiawi dan bermartabat.

    Sejumlah harapan -lebih tepatnya tuntutan- diarahkan pada dunia pendidikan. Dan ini berimbas pada sederet persyaratan untuk bisa menjadi guru. Terlebih untuk bisa menjadi guru dengan predikat guru yang profesional, guru yang berkompeten. Dan…dengan daftar kompetensi yang kemudian harus dimiliki seorang guru, adakah mereka bersedia memberikan diri untuk anak-anak di pelosok? Untuk anak-anak di kampung Dungan Dua, Kec. Menukung, Kalbar, dan bukan hanya untuk waktu singkat?

    Murid-murid SD Rakyat Mehola

    Murid-murid SD Rakyat Mehola

    Anak-anak di kampung ini kerap melontarkan pertanyaan, “Kenapa tidak ada yang mau menjadi guru di kampung kami? Kami ingin bah bisa pintar seperti anak-anak di kota.”

    Yah…kondisi kampung yang amat pelosok memang tidak mudah memikat orang untuk mau tinggal dan selanjutnya menjadi guru bagi anak-anak di sana. Kampung yang sangat jauh dari keramaian kota, yang belum dialiri listrik, yang masih amat sulit untuk bisa mendapatkan sinyal telekomunikasi, yang pola hidupnya masih amat sederhana bergantung pada alam. Maka yang kerap terjadi…bukanlah guru yang mendatangi anak-anak itu. Tetapi merekalah yang terpaksa harus ‘turun gunung’ mencapai sekolah yang lokasinya cukup jauh dari kampung, untuk bisa berjumpa sosok guru yang diharapkan mampu membuat mereka pintar. Itu adalah pilihan sulit bagi orang tua mereka. Usia SD bukanlah usia yang cukup untuk melepas seorang anak jauh dari orang tuanya.

    GURU…siapakah yang memberi batasan keilmuan dan kepantasan bagi seseorang untuk bisa menjadi seorang guru? Di sekolah ini, SD Rakyat Mehola, anak-anak ingin bisa membaca dan menulis. Ketika tidak mungkin lagi berharap pada seorang guru untuk mau mengajar di kampung mereka, maka sesungguhnya siapapun bisa menjadi guru. Bukan lagi semata-mata kompetensi keilmuan yang diperlukan. Tapi kemauan untuk membuat anak-anak itu pintar. Yang diperlukan adalah pribadi yang mau membimbing anak-anak itu dengan sabar.

    Ira, penduduk asli Kampung Sungai Dungan Dua. Ia lulus SD, dan tidak melanjutkan ke SMP karena sadar akan kemampuan akademisnya. Tapi dengan membangun kepercayaan diri padanya -perlahan- ia bersedia menjadi pengajar di SD Rakyat Mehola. Dan anak-anak pun amat mencintai Ira.

    Awal Desember 2012, Ira menikah dan terpaksa pindah ke kampung lain, mengikuti suami. Maka berkurang lagi tenaga pengajar di SD tersebut. Semoga selalu ada kaum muda yang punya kepercayaan diri, untuk mau menjadi teman belajar bagi anak-anak di kampung pelosok.

    Terima kasih Ira….karena sudah mau menjadi guru yang menyayangi anak-anak. Yang mengajari mereka membaca dan menulis. Semoga bahagia selalu.

    Ira, baju hijau, sedang mengajar.

    Ira, baju hijau, sedang mengajar.

     

     

  • Sang Terang Hadir dalam Kesederhanaan

    Posted on December 26th, 2012 No comments

    NATAL….identik dengan hadirnya pohon natal, yakni pohon cemara yang bertabur segala hiasan nan cantik, meriah, penuh warna. Dilengkapi dengan kandang ataupun gua natal, tempat Sang Bayi Yesus lahir. Dan tidak ketinggalan kado-kado mungil yang bertebaran, pun Sinterklas yang mewarnai cerita natal bagi anak-anak.

    Seperti apa sih pohon natal? Salju itu bentuknya kayak apa? Sinterklas itu gimana? Meriah ya Natal di Jawa? Itu adalah pertanyaan seputar natal yang selalu terlontar dari mulut anak-anak kami di pelosok Kalbar. Di kampung nun jauh di sana…gegap gempitanya Natal hanya bisa dibayangkan samar-samar.

    Natal adalah kelahiran Sang Penyelamat. Bukan kehadiran pohon terang dengan aneka hiasan. Natal tetap memberi kebahagiaan tanpa untaian pernak-pernik nan mewah dan hadirnya sinterklas dengan karung kadonya itu.

    Jadi….inilah kegembiraan Natal yang coba kami hadirkan untuk anak-anak di pedalaman Kalimantan Barat.

    Replika kisah Natal

    Replika kisah Natal

    Dengan bahan yang amat sederhana dan terbatas….bukanlah halangan untuk menghadirkan cerita Natal di tengah anak-anak. Ini menjadi Natal yang membahagiakan buat mereka. Tidak perlu lagi membayangkan…tapi hadir secara nyata dalam buatan tangan mereka sendiri.

    Natal….sejatinya adalah perayaan kasih. Dan tidak perlu mengidentikkan perayaannya dengan budaya tertentu. Kasih yang tulus bisa diwujudkan lewat budaya lokal yang penuh keunikan dan kearifan nan bersahaja.

    SELAMAT NATAL 2012 untuk anak-anak dan masyarakat di daerah misi. Kasih tulus dari kalian telah memberikan makna dalam perjalanan hidup kami. Kiranya kasih Yesus yang terus mengalir senantiasa hadir dalam hidup masyarakat di pelosok Kalbar.

    Perayaan Natal di Kampung Bunyau

    Perayaan Natal di Kampung Bunyau

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

  • Hidup dalam Perbedaan Budaya

    Posted on December 18th, 2012 No comments

    mandi dan mencuci peralatan masak di sungai

    Lain ladang lain belalang. Peribahasa yang umum di telinga kita. Setiap daerah, tempat, punya adat istiadat serta kebiasaan berbeda. Kebiasaan yang meliputi pola laku, serta cara berpikir dari masyarakatnya. Karenanya proses mengenal dan beradaptasi adalah tahap penting, ketika kita hendak masuk lebih dalam pada kehidupan masyarakat tertentu.

    Budaya hidup dari suatu komunitas masyarakat tertentu memang diciptakan oleh manusia, yang tidak terpisahkan oleh pengaruh ekologi, lingkungan di mana mereka tinggal. Budaya itu memang bisa diubah, terlebih kalau amat merugikan kehidupan manusia. Permasalahannya, perubahan seperti apa dan oleh siapa. Cukup banyak teori sosial yang menampilkan wacana tentang peran serta partisipatif dalam melakukan perubahan-perubahan sosial. Selama ini, pemahaman itu saya peroleh dari buku-buku. Tetapi selama di Serawai, saya mengalaminya, terlibat langsung dalam proses, dan ternyata tidak mudah.

    Tanpa penyadaran bersama, anak-anak asrama akhirnya melakukan sesuatu hanya untuk menaati aturan-aturan asrama. Aturan-aturan itu (kebersihan, kesopanan, kedisplinan) menjadi tidak berbekas sedikit pun dalam diri anak-anak, justru ketika mereka mudik ke kampung masing-masing.

    Awalnya, saya melihat kondisi di atas sebagai hal yang sederhana. Ternyata tidak. Bukan hal mudah untuk bersabar dengan proses yang berjalan lamban. Terlebih lagi untuk membiasakan mata ini, ketika melihat kebiasaan-kebiasaan yang jauh berbeda. Tanpa sadar, labelisasi negatif juga kerap meluncur dari mulut saya. Namun, sekali lagi, inilah pelajaran yang indah dan berharga bagi saya pribadi.

    budaya makan bersama di kampung (di rumah betang)

    Ketika memilih memasuk dalam lingkungan masyarakat yang berbeda, terlebih bersama-sama mereka mengadakan suatu perubahan sosial, ada ‘strategi’ yang harus ditempuh. Kita harus membuka diri dan menerima pola hidup mereka. Perubahan (meski perlahan) pasti akan terjadi, ketika mereka menyadari perlunya melakukan perubahan itu sendiri.

     

    #tulisan Kristien Yuliarti, dalam buku “Dalam Catatan, 10 Tahun MAVI”#

  • Fajar Pembebasan di Sungai Dungan Dua

    Posted on November 28th, 2012 No comments

    Sungai Dungan Dua. Pernah mendengar nama ini? Mungkin, bagi sebagian besar pembaca, nama ini terdengar asing. Sungai Dungan Dua merupakan nama sebuah kampung di  pelosok Kalimantan Barat (Kalbar). Tepatnya, di wilayah Kecamatan Menukung, Kabupaten Melawi dengan Nanga Pinoh sebagai ibukotanya. Kabupaten Nanga Pinoh merupakan kabupaten baru, hasil pemekaran pada tahun 2005. Sebelumnya, kabupaten ini merupakan kecamatan yang menjadi bagian dari Kabupaten Sintang.

    Setiap orang yang ingin berkunjung ke kampung ini, membutuhkan perjalanan cukup panjang. Dari Pontianak, Ibukota Propinsi Kalimantan Barat, perjalanan mesti ditempuh dengan bis, menuju Nanga Pinoh selama 12 jam. Sesampai di Nanga Pinoh, perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan speedboat sekitar tiga jam untuk sampai di Kecamatan Menukung.

    Setiba di Menukung, perjalanan mesti dilanjutkan dengan berjalan kaki selama sekitar tiga jam (bagi pemula). Ya, sebagai pemula atau bagi mereka yang pertama kali menempuh perjalanan ini pertama kali, cukup menguras tenaga. Perjalanan ini melintasi bukit-bukit, ditambah sengatan panasnya udara Kalbar. Sepanjang perjalanan, menghampar dataran yang terbuka. Tak banyak pohon besar. Jadi, meski melintasi perbukitan, udara sejuk segar sungguh bukan di sana tempatnya.

    *****

    Bumi Kalimantan merupakan daerah yang diberkati dengan potensi sumber daya alam berlimpah. Hutan tropis yang menjadi salah satu paru-paru dunia. Hasil tambang yang tak bisa diremehkan. Mulai dari minyak bumi, batu bara, nikel, timah. Masyarakat Kalimantan juga kaya  akan keragaman budaya.

    Potensi sumber daya yang melimpah, toh bukan jaminan masyarakat bisa hidup makmur. Rendahnya tingkat pendidikan, merupakan persoalan yang tak bisa dianggap remeh-enteng. Rendahnya tingkat pendidikan, menjadikan sebuah bangsa yang diberkati sumber daya alam melimpah, belum tentu mampu memanfaatkannya.

    Keprihatinan inilah yang mendorong dirintisnya kegiatan belajar. Digagas oleh Rm. Paulus Suparmono, CM, Laurensius Limin (salah satu umat setempat), dan anggota MAVI, V. Yuliardi (Ardi), diadakanlah kegiatan belajar bersama bagi anak-anak. Pertama kali, kegiatan belajar bersama dimulai di rumah Limin. Dipilihnya rumah Limin, karena rumah itu dianggap cukup besar untuk bisa menampung kurang lebih 30 anak.

    Semua anak, siapapun dia, diijinkan dan diajak belajar bersama setiap harinya.  Kurang lebih 20-30 anak setiap  harinya yang datang untuk belajar di rumah itu. Seperti pada banyak hal, pada mulanya, antusiasme melahirkan semangat. Banyak anak mulai terlibat belajar bersama. Jumlah tenaga pengajar tidaklah sebanding dengan jumlah anak. Menyingsinglah fajar pendidikan yang membebaskan dari ancaman kobodohan.

    Kepedulian pada kondisi pendidikan, khususnya bagi anak-anak, melahirkan komitmen dalam diri MAVI untuk senantiasa mengupayakan keberlangsungan sekolah tersebut.

    #Margaretha Lilianti, “10 Tahun MAVI dalam Catatan” hlm. 135#

  • AIR ASAM

    Posted on November 9th, 2012 No comments

    Masyarakat Dayak di kampung-kampung (jauh dari perkotaan) -setidaknya kampung yang pernah saya kunjungi- telah menggantungkan hidupnya pada alam sekian tahun lamanya. Salah satunya kebutuhan akan air. Semua keperluan air -untuk maksud apapun- diambil dari sumber air yang sama yaitu sungai terdekat. Bahkan di kampung yang amat pedalaman, bukanlah sungai yang menjadi sumber air, tetapi hanya  berupa ‘kolam kecil’. Tentu bisa dibayangkan kondisi air tersebut jika segala aktivitas dilakukan di sungai yang sama. Termasuk pula kebutuhan untuk air minum. Di samping itu, mereka juga memanfaatkan air hujan ketika musim penghujan tiba.

    Satu kebiasaan yang umum pada mereka adalah minum air mentah, yang juga langsung diambil dari sungai terdekat. AIR HIDUP….begitulah mereka biasa menyebut air mentah. Kebiasaan yang telah sekian lama dilakukan, dan tetap dilakukan meski kondisi air sungai semakin tercemar. Mereka tidak suka minum AIR MATI…sebutan untuk air yang sudah dimasak. Alasannya….air hidup lebih segar dan manis 🙁

    Ada lagi sebutan AIR ASAM. Sebutan ini ditujukan untuk air dengan bubuk minuman sachet. Nah…ini yang benar-benar digemari masyarakat, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Satu sachet bubuk perasa ditambah air dan es batu dijual Rp. 1.000,00

    Dan saya terheran-heran dengan begitu banyaknya merk bubuk minuman sachetan. Bahkan beberapa tidak pernah  saya jumpai di Jawa, seperti YOKU, FRUTZZ, FRENTA, FINTO. Dan di antara merk tersebut, ada yang bernada “minuman super greng” yaitu LOVINTON. Dijual juga untuk anak-anak :((

    Anak-anak yang tinggal di asrama bisa 4 kali membeli air asam itu dalam sehari, karena malas ambil air dan memasaknya. Memang begitu mudah menjejali masyarakat yang minim akses informasi dengan segala produk yang tampak menyenangkan, tapi jelas-jelas berbahaya untuk kesehatan mereka. Apalagi dengan memanfaatkan rasa ingin tahu mereka karena melihat iklan-iklan di televisi. Minuman dengan ‘merk aman’ memang cukup mahal. Maka menjual produk serupa dengan harga yang amat sangat murah…tentu mendatangkan keuntungan yang sangat besar.

    #miris…prihatin…#

    by kristien

    (refleksi kunjungan ke Kalbar akhir Agustus 2012)

  • Expo Karya Kerasulan Awam

    Posted on November 9th, 2012 No comments

    Tanggal 20-21 Oktober 2012, MAVI membuka ‘gerai misi’ di Paroki Kristus Raja, Jl Residen Sudirman 3, Surabaya. Atas undangan Seksi Misioner dan Kerasulan Panggilan Paroki Kristus Raja. Kegiatan ini dalam rangka Hari Minggu Misi Sedunia 2012, dengan tema “Dipanggil untuk Memancarkan Sabda Kebenaran“.

    Selain membuka gerai misi, MAVI juga mendapat kesempatan berbagi cerita saat Misa hari Minggu, 21 Oktober 2012, pkl. 09.00 WIB. Yah…berbagi cerita berarti mencoba menebarkan ‘virus kepedulian’…peduli pada kehidupan masyarakat pedalaman yang teramat sulit memperoleh akses pendidikan, kesehatan, pun akses pembinaan hidup rohani.

    Semoga banyak hati -khususnya kaum awam muda- tergerak untuk memberikan sedikit waktu dalam perjalanan hidupnya bagi masyarakat di daerah pedalaman.

    merchandise MAVI

http://twitter-widget.com/blog/packages/