Misionaris Awam Vinsensian Indonesia
RSS icon Email icon
  • Memurnikan Motivasi Lewat Formatio

    Posted on May 16th, 2013 No comments

    Formatio mengandung makna pembentukan, pengolahan, pengenalan. Formatio calon anggota sebagai jalan masuk seorang calon anggota ke dalam tubuh MAVI  ini adalah sarana saling mengenali antara calon anggota dan MAVI. Masing-masing pihak membuka sebuah ruang dialog sehingga melaluinya dapat ditemukan pengenalan dan pemahaman yang lebih baik di antara keduanya. Sebagai orang yang akan terlibat dalam karya MAVI menjalani proses formatio adalah masa pendalaman atas karya-karya yang telah, sedang, dan akan dilaksanakan oleh MAVI.

    Proses ini juga merupakan kesempatan untuk menanamkan dan merefleksikann semangat-semangat vinsensian, merefleksikan panggilan menjadi seorang misionaris awam, dan terutama refleksi atas hidup dan gerak-gerak batin selama menjalani hari-hari formatio. Panggilan menjadi misionaris awam bukanlah “panggilan  biasa”. Menjadi misionaris awam tidak “keren” seperti menjadi imam, bruder, suster. (Kata awam itu sendiri kadang terasa kurang menyenangkan jika dibandingkan dengan kata religius. Dua kata yang seharusnya hanya merujuk pada status seseorang yang awam atau yang religius tetapi sering digunakan untuk menakar kualitas dua pihak yang berbeda status itu, seolah-olah yang awam itu berada pada kasta yang lebih rendah). Anggota MAVI hampir tidak pernah terdengar, tidak terlihat mentereng dalam gemerlapnya dinamika Gereja Katolik Indonesia dan seringkali bekerja dalam kesendirian. Dalam konteks “budaya pamer” yang melanda negeri ini pilihan menjadi anggota MAVI boleh jadi sangat tidak menarik, dan dalam masa formatio konsekuensi-konsekuensi semacam itu yang merupakan bagian dari pilihan menjadi seorang misionaris awam diresapi dan direfleksikan sehingga panggilan itu kian menampilkan wajahnya yang asli; apakah itu sekedar keinginan untuk petualangan dan aktualisasi diri atau sungguh-sungguh menjawab perutusan sebagai warga Gereja Katolik yang punya hati untuk berbagi berkat kehidupan dengan sesamanya yang paling kecil, lemah, dan tersingkir. Masa formatio menjadi saat untuk melihat kembali dan memurnikan motivasi yang membawa kaki melangkah ke Sekretariat MAVI.

    Meskipun hanya sebulan, kesabaran dalam mengikuti formatio sangat diperlukan karena kesabaran, ketenangan, adalah hal pokok yang tidak boleh diabaikan ketika seseorang sedang merefleksikan sebuah panggilan yang tidak biasa, ketika seseorang sedang melihat kembali motivasinya. Kesabaran dan ketenangan dalam menjalani formatio memberikan kemampuan dan ruang untuk berefleksi dan memahami gerak-gerak batin selama hari-hari yang kadang terasa menjemukan. Kemampuan berefleksi itu sangat dituntut dari seorang calon dan juga anggota MAVI. Seringkali motivasi yang kuat (tetapi belum tentu benar) dan keinginan untuk segera berangkat (dengan motivasi yang belum tentu benar pula) membuat tidak sabar dan lupa bahwa “pekerjaannya” bukanlah sekedar pekerjaan tetapi mengemban sebuah misi yang, minimal bagi saya, tidak bisa disamakan dengan pekerjaan begitu saja meski di dalam misi itu pun ujung tombaknya adalah bekerja.

    Selama masa formatio saya dititipkan dalam komunitas Sanggar Sahabat Anak, dan kesempatan hidup bersama komunitas ini melahirkan banyak momen yang sangat menarik untuk dicecap-cecap dalam semangat refleksi.  Hidup bersama mereka saya rasakan sebagai jalan masuk yang sangat baik ke dalam spiritualitas vinsensian yang menjunjung tinggi dan menghidupi semangat kesederhanaan, kelemahlembutan, kerendahan hati, matiraga, dan semangat menyelamatkan jiwa-jiwa.

    Di Sanggar Sahabat Anak saya “dipaksa” lebih cepat mengadopsi kelima keutamaan itu. Saya mengalami dibenturkan langsung dengan keharusan mengamalkan kelima sila “pancasila” itu. Kehidupan sehari-hari di sanggar bukanlah keseharian yang biasa saya hadapi. Orang-orang yang terlibat di dalamnya tidak berlatarbelakang budaya yang sama dengan saya (saya dari Jogja yang Jawa sedangkan teman-teman di sanggar  dari Flores, bisa dibayangkanlah perbedaannya….). Anak-anak yang belajar dan bermain di sanggar juga bukan anak-anak dengan karakter yang biasa saya temui di kampung saya.  Mereka adalah anak-anak kaum pinggiran kota Malang dengan karakter yang cenderung tidak mudah diatur. Saya dihadapkan kepada tata cara hidup yang baru, hidup yang cenderung ramai dan berisik, dihadapkan pada pribadi-pribadi dengan  karakter keras. Dalam situasi seperti itu kerelaan untuk rendah hati, berpikiran dan berperilaku sederhana dan tidak berbeda dengan mereka, bersikap lemah lembut dalam menerima perubahan hidup dengan tidak mengedepankan idealitas tetapi lebih bersikap memahami realitas, serta kerelaan menerima apa yang ada tanpa syarat dan mau bersahabat dengan siapa saja di sanggar, menjadi wajib hukumnya jika ingin “bertahan hidup” dengan tetap dapat merasa gembira dan menikmati hari-hari bersama mereka.

    Melalui pengalaman beberapa hari bersama sahabat-sahabat di sanggar, saya merasakan bahwa mendalami spiritualitas vinsensian adalah bergulat dengan diri sendiri ketika seseorang sedang  berada dalam kondisi di mana idealisme, eksistensi diri dan keinginan untuk mengaktualisasikan diri berhadapan dengan saat-saat yang menuntut sikap rendah hati, sederhana, lemah lembut, dan matiraga. Tantangannya adalah apakah ketika dihadapkan dengan kondisi semacam itu bisa tetap menghidupi semangat vinsensian sembari mencoba menawarkan perubahan yang lebih baik kepada masyarakat dan apakah bisa mencoba menawarkan perubahan dengan tetap menghidupi semangat vinsensian?

    Mengikuti formatio saya rasakan juga sebagai  sarana memahami kehendak Allah yang disampaikan lewat pertemuan-pertemuan dengan Mbak Kristien, Mbak Lily, Rama Wawan, Mas Bro Miki, Mas Bro Oby, dan sahabat-sahabat yang lain di sanggar. Melalui bacaan-bacaan dari sekretariat, “konferensi-konferensi” dari Mbak Kristin dan Mbak Lily kebrisikan dan kegilaan hidup di sanggar, Allah berbicara kepada saya tentang cinta kasih, persahabatan, kepedulian, penghargaan kepada sesama, dan Ajaran Sosial Gereja……

    April 2013, Teguh Rahardjo

    4935_1095569826811_2459213_n

  • TAK APA KAK, BUAT KAKAK….

    Posted on February 6th, 2013 No comments
    Wemie di tengah murid-murid Bunyau

    Wemie di tengah murid-murid Bunyau

    Salah seorang murid kelas III SD Swadaya Bunyau yang bernama Riko rajin sekali mencari ikan, keong mas, memberi umpan babi dan mencari sayur di ladang. Sore itu, aku dan Kak Luluk yang sudah setahun lebih mengajar di Bunyau, baru saja sampai di rumah kecil kami setelah seminggu lebih ke Menukung (kota kecamatan dan pusat paroki-red).

    Sebagaimana layaknya orang yang baru datang, kami berdua merasa sangat letih karena pengalaman yang melelahkan, ditambah keadaan rumah yang kotor dan tidak ada air sama sekali, membuat kami terduduk lemas di lantai rumah. “Wah, harus bolak-balik ambil air ke sungai nih, tandon kita kosong sama sekali…”. Padahal jarak antara sungai dan rumah lumayan jauh, sekitar 300 meter. Membayangkannya saja kami sudah capai.

    Tiba-tiba terdengar suara Riko memanggil-manggil dari luar, “Kakak….kakak…. Ada ikan buat Kakak…”. “Aduh mak…ikan!” Berarti harus ada banyak air untuk membersihkannya kan? Padahal segayung air begitu berharga di rumah ini.

    Walau pun pamali kalau harus menolak pemberian, aku keluar rumah dan berkata kepada Riko, “Oh Riko, maaf ya. Bukannya Kakak tidak mau ikan, tapi Kakak baru datang. Kakak tidak punya air untuk membersihkan ikan itu. Minyak tanah pun kami belum punya. Jadi, kau bawa pulang saja bah, makan sama Mamak, Apak (ibu, bapak-red), dan adik kau…!” Dia mengangguk dan pergi. Ah, syukurlah dia mau mengerti.

    Tak lama kemudian, kami sudah bersiap-siap memakai sarung dan membawa ember untuk mandi dan mengambil air ke sungai. Eh, suara Riko terdengar lagi, ”Kakak…Ini ada ikan buat Kakak…” . Aku dan Kak Luluk berpandang-pandangan dan tertawa letih. ”Riko, Kakak belum punya air, bawa pulang aja ya…”. “Sudah kubersihkan Kak”. Dia menunjukkan dua ekor ikan kecil yang sudah bersih. Aku tertawa, ”Wah, terima kasih. Kalau gitu, tolong belikan minyak tanah ya, biar Kakak bisa goreng ikan itu nanti. Kakak mau ke sungai dulu”. Setelah Kak Luluk memberikan uang dan jerigen minyak, dia melesat bagai anak panah menuju warung, yang hanya satu-satunya di kampung itu.

    Malam harinya, setelah kami selesai menggoreng ikan, Riko datang lagi untuk belajar di rumah kami. Sekalian saja kami ajak dia makan bersama. Iseng-iseng kutanya dia, ”Memang dapat berapa ekor ikan kau tadi?” “Empat ekor”. Aku terkejut. Dua ekor diberikannya kepada kami padahal jumlah anggota keluarganya ada enam orang. ”Kenapa yang dua ekor kau berikan pada Kakak? Bukannya yang dua lagi tidak cukup untuk keluarga kau?” Sambil tersenyum dia menjawab singkat, ”Tak apa Kak, buat Kakak..”.

    Aku terdiam. Hampir tak dapat kutelan nasi hangat dan ikan yang sudah ada di mulutku karena aku menahan rasa haru yang tiba-tiba muncul. Jawaban yang sungguh-sungguh sederhana keluar dari bibir kecilnya dan menunjukkan bahwa, ”Aku memberi karena aku ingin memberi”. Tidak ada maksud ingin dipuji, ingin dibalas atau alasan yang lainnya. Sebuah ketulusan yang sudah semakin jarang aku temui. Sebuah pemberian dari kekurangan yang ia miliki.

    “Tuhan terima kasih. Kau kirimkan seorang guru kecil hari ini. Seorang Guru Kehidupan…”

    *Sharing Irene Wemie, anggota MAVI yang berkarya di asrama putri Paroki St. Louisa, Menukung, Kalbar, saat mengunjungi Kampung Bunyau, tahun 2006.

    tempat tinggal Wemie di Bunyau

    tempat tinggal Wemie di Bunyau

  • Hidup dalam Perbedaan Budaya

    Posted on December 18th, 2012 No comments

    mandi dan mencuci peralatan masak di sungai

    Lain ladang lain belalang. Peribahasa yang umum di telinga kita. Setiap daerah, tempat, punya adat istiadat serta kebiasaan berbeda. Kebiasaan yang meliputi pola laku, serta cara berpikir dari masyarakatnya. Karenanya proses mengenal dan beradaptasi adalah tahap penting, ketika kita hendak masuk lebih dalam pada kehidupan masyarakat tertentu.

    Budaya hidup dari suatu komunitas masyarakat tertentu memang diciptakan oleh manusia, yang tidak terpisahkan oleh pengaruh ekologi, lingkungan di mana mereka tinggal. Budaya itu memang bisa diubah, terlebih kalau amat merugikan kehidupan manusia. Permasalahannya, perubahan seperti apa dan oleh siapa. Cukup banyak teori sosial yang menampilkan wacana tentang peran serta partisipatif dalam melakukan perubahan-perubahan sosial. Selama ini, pemahaman itu saya peroleh dari buku-buku. Tetapi selama di Serawai, saya mengalaminya, terlibat langsung dalam proses, dan ternyata tidak mudah.

    Tanpa penyadaran bersama, anak-anak asrama akhirnya melakukan sesuatu hanya untuk menaati aturan-aturan asrama. Aturan-aturan itu (kebersihan, kesopanan, kedisplinan) menjadi tidak berbekas sedikit pun dalam diri anak-anak, justru ketika mereka mudik ke kampung masing-masing.

    Awalnya, saya melihat kondisi di atas sebagai hal yang sederhana. Ternyata tidak. Bukan hal mudah untuk bersabar dengan proses yang berjalan lamban. Terlebih lagi untuk membiasakan mata ini, ketika melihat kebiasaan-kebiasaan yang jauh berbeda. Tanpa sadar, labelisasi negatif juga kerap meluncur dari mulut saya. Namun, sekali lagi, inilah pelajaran yang indah dan berharga bagi saya pribadi.

    budaya makan bersama di kampung (di rumah betang)

    Ketika memilih memasuk dalam lingkungan masyarakat yang berbeda, terlebih bersama-sama mereka mengadakan suatu perubahan sosial, ada ‘strategi’ yang harus ditempuh. Kita harus membuka diri dan menerima pola hidup mereka. Perubahan (meski perlahan) pasti akan terjadi, ketika mereka menyadari perlunya melakukan perubahan itu sendiri.

     

    #tulisan Kristien Yuliarti, dalam buku “Dalam Catatan, 10 Tahun MAVI”#

  • Expo Karya Kerasulan Awam

    Posted on November 9th, 2012 No comments

    Tanggal 20-21 Oktober 2012, MAVI membuka ‘gerai misi’ di Paroki Kristus Raja, Jl Residen Sudirman 3, Surabaya. Atas undangan Seksi Misioner dan Kerasulan Panggilan Paroki Kristus Raja. Kegiatan ini dalam rangka Hari Minggu Misi Sedunia 2012, dengan tema “Dipanggil untuk Memancarkan Sabda Kebenaran“.

    Selain membuka gerai misi, MAVI juga mendapat kesempatan berbagi cerita saat Misa hari Minggu, 21 Oktober 2012, pkl. 09.00 WIB. Yah…berbagi cerita berarti mencoba menebarkan ‘virus kepedulian’…peduli pada kehidupan masyarakat pedalaman yang teramat sulit memperoleh akses pendidikan, kesehatan, pun akses pembinaan hidup rohani.

    Semoga banyak hati -khususnya kaum awam muda- tergerak untuk memberikan sedikit waktu dalam perjalanan hidupnya bagi masyarakat di daerah pedalaman.

    merchandise MAVI

http://twitter-widget.com/blog/packages/