Misionaris Awam Vinsensian Indonesia
RSS icon Email icon
  • TAK APA KAK, BUAT KAKAK….

    Posted on February 6th, 2013 No comments
    Wemie di tengah murid-murid Bunyau

    Wemie di tengah murid-murid Bunyau

    Salah seorang murid kelas III SD Swadaya Bunyau yang bernama Riko rajin sekali mencari ikan, keong mas, memberi umpan babi dan mencari sayur di ladang. Sore itu, aku dan Kak Luluk yang sudah setahun lebih mengajar di Bunyau, baru saja sampai di rumah kecil kami setelah seminggu lebih ke Menukung (kota kecamatan dan pusat paroki-red).

    Sebagaimana layaknya orang yang baru datang, kami berdua merasa sangat letih karena pengalaman yang melelahkan, ditambah keadaan rumah yang kotor dan tidak ada air sama sekali, membuat kami terduduk lemas di lantai rumah. “Wah, harus bolak-balik ambil air ke sungai nih, tandon kita kosong sama sekali…”. Padahal jarak antara sungai dan rumah lumayan jauh, sekitar 300 meter. Membayangkannya saja kami sudah capai.

    Tiba-tiba terdengar suara Riko memanggil-manggil dari luar, “Kakak….kakak…. Ada ikan buat Kakak…”. “Aduh mak…ikan!” Berarti harus ada banyak air untuk membersihkannya kan? Padahal segayung air begitu berharga di rumah ini.

    Walau pun pamali kalau harus menolak pemberian, aku keluar rumah dan berkata kepada Riko, “Oh Riko, maaf ya. Bukannya Kakak tidak mau ikan, tapi Kakak baru datang. Kakak tidak punya air untuk membersihkan ikan itu. Minyak tanah pun kami belum punya. Jadi, kau bawa pulang saja bah, makan sama Mamak, Apak (ibu, bapak-red), dan adik kau…!” Dia mengangguk dan pergi. Ah, syukurlah dia mau mengerti.

    Tak lama kemudian, kami sudah bersiap-siap memakai sarung dan membawa ember untuk mandi dan mengambil air ke sungai. Eh, suara Riko terdengar lagi, ”Kakak…Ini ada ikan buat Kakak…” . Aku dan Kak Luluk berpandang-pandangan dan tertawa letih. ”Riko, Kakak belum punya air, bawa pulang aja ya…”. “Sudah kubersihkan Kak”. Dia menunjukkan dua ekor ikan kecil yang sudah bersih. Aku tertawa, ”Wah, terima kasih. Kalau gitu, tolong belikan minyak tanah ya, biar Kakak bisa goreng ikan itu nanti. Kakak mau ke sungai dulu”. Setelah Kak Luluk memberikan uang dan jerigen minyak, dia melesat bagai anak panah menuju warung, yang hanya satu-satunya di kampung itu.

    Malam harinya, setelah kami selesai menggoreng ikan, Riko datang lagi untuk belajar di rumah kami. Sekalian saja kami ajak dia makan bersama. Iseng-iseng kutanya dia, ”Memang dapat berapa ekor ikan kau tadi?” “Empat ekor”. Aku terkejut. Dua ekor diberikannya kepada kami padahal jumlah anggota keluarganya ada enam orang. ”Kenapa yang dua ekor kau berikan pada Kakak? Bukannya yang dua lagi tidak cukup untuk keluarga kau?” Sambil tersenyum dia menjawab singkat, ”Tak apa Kak, buat Kakak..”.

    Aku terdiam. Hampir tak dapat kutelan nasi hangat dan ikan yang sudah ada di mulutku karena aku menahan rasa haru yang tiba-tiba muncul. Jawaban yang sungguh-sungguh sederhana keluar dari bibir kecilnya dan menunjukkan bahwa, ”Aku memberi karena aku ingin memberi”. Tidak ada maksud ingin dipuji, ingin dibalas atau alasan yang lainnya. Sebuah ketulusan yang sudah semakin jarang aku temui. Sebuah pemberian dari kekurangan yang ia miliki.

    “Tuhan terima kasih. Kau kirimkan seorang guru kecil hari ini. Seorang Guru Kehidupan…”

    *Sharing Irene Wemie, anggota MAVI yang berkarya di asrama putri Paroki St. Louisa, Menukung, Kalbar, saat mengunjungi Kampung Bunyau, tahun 2006.

    tempat tinggal Wemie di Bunyau

    tempat tinggal Wemie di Bunyau

    Comments are closed.

http://twitter-widget.com/blog/packages/